Monday, August 28, 2006

"E-mail", SMS, atau...

Hari ini nemu artikel seru disini.
Oleh: Samuel Mulia Penulis mode dan gaya hidup

Harus diakui saya berterima kasih kepada teknologi yang majunya begitu dahsyat, bahkan sering kali saya terengah-engah mengikutinya.
Saya baru tahu sekarang bahwa terengah-engah tak hanya saat olahraga di tempat olahraga atau di ranjang. Kemajuan teknologi ternyata melelahkan juga, meski tak tahu kapan waktu tepat untuk ejakulasi.

Saya baru berniat membeli kamera digital tujuh megapiksel, seminggu kemudian saya membaca di harian ini iklan yang menawarkan kamera digital delapan megapiksel. Itu baru berbicara soal kamera digital, belum soal telepon genggam yang tak hanya bisa ini bisa itu, tetapi bisa segalanya. Bahkan ada efek getarnya saat alat komunikasi ini di-silent. Itu sudah mirip alat bantu seks yang bisa menggetarkan dan bisa digunakan seseorang yang sedang malas digetarkan orang lain.

Teman saya sekali waktu pernah menanyakan soal blackberry, waktu itu saya sama sekali tak tahu karena saya memang gaptek. Waktu dia menanyakan blackberry, saya pikir itu salah satu jenis buah dari keluarga berry-berry-an.
"Bisa beli di Hero, ya? Di sini strawberry saja mahal banget, bo." Maka gemurulah suara teman-teman saya terbahak-bahak. Dan ketika saya menanyakan soal PDA-setelah ditertawai tadi-seorang teman wanita yang kebetulan sedang bersama kami berpikir PDA itu salah satu gelar selain PhD.
"Aduh malu deh aku," katanya. "Enggak papa, Jeung," kata saya. "Yah... namanya juga kita cuma lulusan S-1, S-2, dan S-3. Maksudnya SD, SMP SMA... Jadi, gitu deh," jawab saya.

Oh... teknologi
Beberapa hari setelah pertemuan itu saya diantar pulang ke apartemen oleh seorang teman yang tahu soal teknologi. Di dalam mobil ia memperdengarkan lagu-lagu pop Indonesia. Terus saya berkomentar lagu-lagunya enak sekali.
"Beli di mana? CD siapa, nih?" tanya saya. "Ini bukan CD, gue download terus gue masukin ke USB yang bisa didengar lewat gelombang radio. Alatnya elo bisa beli di Kuala Lumpur," jelasnya.
Saya tambah bingung. Kata teman saya. "Enggak usah bingung-bingung, ntar gue ajarin." Saya bertanya lagi, "Ajarin apa?" Ia menjawab tenang, "Ajarin download lagu."

Teknologi semacam itu benar-benar membingungkan buat saya yang gaptek, tetapi setelah beberapa gadget dan fasilitasnya saya coba dengan memakai IQ saya yang jongkok, ternyata beberapa kali menolong saya. Semuanya jadi mudah. Seperti e-mail atau SMS, bahkan sekarang dengan fasilitas MMS, saya tinggal mengirimkan pesan, gambar lagu untuk mereka yang berulang tahun, melahirkan, lulus jadi dokter, lulus masuk perguruan tinggi meski pakai joki, waktu naik jabatan meski naiknya karena masih punya hubungan dekat dengan pak ini dan bu itu.

Kalau saya, sudah dekat dengan ini dan itu, sudah berusaha naik, tetap tak naik-naik jabatan. "Lo sih salah, yang lo deketin pacarnya orang, gimana mau naik. Naik ranjang iya. Kalau mau bener-bener naik, deketin yang punya jabatan penting. Mbok bergaul situ," katanya menasihati.
"Maksud gue boleh saja lo bergaul sama pendaki gunung, tetapi bukan itu yang gue maksud, oke?" katanya lagi. Saya seperti tak berdaya mendengar pesannya. "Yah oke, Bos," jawab saya. "Eh... nama gue bukan bos, lagi," jawabnya lagi.

Entah mengapa setelah merasa mendapat kemudahan dari hadirnya teknologi, belakangan perasaan sentimentil saya muncul. Padahal, sudah lama sekali rasa itu tak pernah hadir. Tiba-tiba saya teringat someone special. Yang saya maksud someone special bukanlah pegawai bank yang selalu tak lupa menghubungi saya dan mengingatkan batas kartu kredit saya telah terlampaui.

Kesetrum
Seseorang yang spesial itu pernah menghubungi saya pukul dua belas malam lebih sekian detik hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Tetapi, saat beberapa bulan lalu ia merayakan hari jadinya, saya hanya mengirimkan SMS dengan kalimat indah yang saya dapat dari hasil kiriman seorang teman.

Kemudian saya memperbandingkan usahanya untuk menelepon tengah malam dan berbicara dengan suaranya sendiri, dan bukan seperti saya saking malasnya, kebiasaan mau cepat dan tak mau rugi, maka fasilitas SMS-lah yang saya gunakan. Itu mungkin sayanya saja yang tak tahu diri dan dengan mudah menyalahkan SMS. Itu kalau punya kebiasaan mencari kambing hitam.
Hari Jumat minggu lalu, saat sedang liburan dengan cuti yang terpotong, saya teringat masa remaja puluhan tahun lalu. Salah satu kesenangan waktu senggang adalah korespondensi.
Beberapa surat masih saya simpan dan sekarang saat saya membaca surat-surat lama itu saya melihat perubahan tulisan tangan saya. Melihat kembali cinta remaja saya. Cinta, cinta, cinta. Saya seperti tak butuh apa-apa kecuali cinta untuk hidup. Padahal, kalau dipikir dengan kepala jernih, ya hidup perlu oksigen untuk bisa mencintai, bukan?

Pada masa itu, kalau ada yang berulang tahun, saya berusaha pergi ke toko buku, memilih kartu ucapan yang tepat, kadang yang kosong sehingga saya bisa menuliskan kalimat yang keluar dari hati dan kepala saya, bukan yang seperti sekarang tinggal mem-forward-kan kalimat-kalimat indah yang mungkin bukan dari hati saya yang sesungguhnya. Menyisihkan waktu untuk pergi ke kantor pos, membeli prangko, menunggu giliran, sambil menikmati gedung pos yang tua dengan dinding kaca. Sekarang selalu saja tak ada waktu untuk hal-hal kecil itu.

Semoga lama-lama saya tak jadi manusia yang tumpul perasaannya. Kata teman saya. "Enggak mungkinlah lo bakal kayak robot tanpa perasaan. Selama ada yang mulai telepon-telepon lo terus bilang, I miss you, perasaan manusiawi lo tetap bakal kesetrum. Apalagi kalau lo ditelepon pegawai bank yang ngingetin tagihan lo."
Dia masih melanjutkan, "Kesetrum adalah bukti lo enggak bakal jadi robot. Robot yang ketemu lo enggak hanya kesetrum, gue pastiiin mulutnya juga jadi kayak punya elo." Tipis, maksud lo? "Embeeerrrrrr," katanya.

Teknologi yang Mengubah Hidup
1. Minggu lalu saya berbicara dengan salah satu manajer sebuah perusahaan rekaman. Ia mengeluh karena penjualan CD dan kasetnya, meski belum rugi, semakin melorot. "Yah… gitu deh. Bajakan, bisa di-download kapan pun."
Teknologi memudahkan untuk yang punya usaha bajak-membajak dan download-men-download, dan menyulitkan mereka yang memproduksi secara legal. Teknologi benar-benar mengubah hidup mereka. Satu sengsara, satu gembira. Adilkah hidup ini? "Adiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiil," kata yang membajak.
2. Seorang wartawan mode, teman saya sejak lama, sampai sekarang tak punya telepon genggam. Pada suatu hari saya bertanya mengapa ia tak berkeinginan membeli telepon genggam, itu sesuatu yang akan memudahkannya.
Ia menjawab, "Emang lo pikir hidup gue enggak mudah? Mudah lagi." Ia benar. Saya yang tidak merasa mudah. Kalau saya tidak merasa mudah, mengapa orang lain harus ikut merasa tidak mudah? Itu problem saya, bukan problem teman saya itu. Saya tak perlu sampai punya keinginan memaksakan standar kemudahan saya, diterapkan kepada dia. Ia punya standar kemudahan sendiri.
Mungkin saya korban kemajuan teknologi, sedangkan iman dia begitu kuat sampai bisa menaklukkan kemajuan itu untuk dirinya. Mungkin sudah waktunya ia mendapat bintang penghormatan. Bukan untuk kehebatannya tak punya telepon genggam, tetapi untuk imannya yang tak tergoyahkan itu.
3. Bila Anda mengirimkan sebuah ucapan, apa pun itu, sediakan waktu untuk berpikir apa yang hendak Anda tulis. Bukan dengan mudah menuliskan kalimat-kalimat-kalimat yang dikirimkan untuk Anda melalui gadget di tangan. Kalimat dari hati Anda mempunyai nilai lebih dari sekadar kalimat yang diambil dari ucapan seorang Imelda Marcos, atau Bill Gates, atau buatan manusia maya supaya Anda mem-forward ke teman-teman Anda lagi karena kemungkinan kalimatnya memang menyentuh atau memberi semangat. Tetapi, kalimat itu punya mereka dan Anda bukan mereka.

Mudahnya, latihlah mengungkapkan perasaan Anda, itu maksud saya. Jadi, siapa tahu, Imelda Marcos suatu hari yang akan menyontek ungkapan buatan Anda sendiri itu. Bukankah teknologi bisa mem-forward kalimat Anda itu tanpa batas? ***
Komentar: Yea, secara tukang ojek aja sekarang udah nerima orderan ojek via ponsel, ucapan selamat Idul Fitri pun jadi terasa kurang syahdu gitu. Adanya fitur "Send SMS to Group" membuat orang malas untuk bikin ucapan secara khusus untuk setiap contact di ponselnya. Gue dulu nih, suka beli kartu lebaran, milih2 mana gambar kartu yang tepat buat si ini, si anu kan sukanya yg lucu2, dsb. Trus gue tulisin tuh satu2 ucapannya, gue sesuaikan ama si calon penerima kartunya. Sekarang pas Lebaran, suka canggung kalo dapat bejibun SMS ucapan Idul fitri yang nadanya mirip2, gitu2 aja, contekan dari mana2. Yah, akhirnya cuman klik "Reply", cari kalimat ucapan yang gak sama ama yang dikirim, trus "Send" deh. Kalo buat sanak saudara sih, secara gue udah beberapa kali gak bisa pulang pas Lebaran, gue tetep usahain nelpon satu-persatu, sekitar 15 menit lah ngobrol2 tanya kabar ngalor-ngidul selain ucapin "mohon maaf lahir batin". Boros memang, tapi ini event setahun sekali. Menurut gue yah harus ada bedanya lah kalo ama sanak saudara. Makanya pernah esmosi waktu ada sodara dekat yang selama setaun-an gak nanya/kirim kabar, tiba2 pas Lebaran cuman kirim SMS ucapan gitu doang. Waktu itu gue blom sempat nelpon ke dia, sebab belom hari Idul Fitrinya. Huhuhu... persaudaraan dihargai Rp 350?

Wednesday, August 23, 2006

Susu Pagi Hari, Setoran Pengemis, dll.

Secara yaa...secara... (memulai cerita dengan gaya MC infotainment yg lagi ngetren). Tadi pagi kan aku gak dijemput ojek langganan. Entah kemana tu orang, padahal tadi pagi aku lagi kumat rajin, jam 6 pagi udah siap nongol di pintu rumah. Karena cari ojek mesti ke gerbang depan komplek, akhirnya telat deh akyu sampe setasiyun. Huhuhu... trus akyu coba ngejar kereta AC jam keberangkatan berikutnya, dari stasiun tetangga, jadinya naik kereta 'kambing' dulu deh. Dipenyet-penyet badanku jadi berduri lunak gitu deh. Untungnya stasiun tetangga cuman 5 menit dari stasiun biasanya.
Eh secaranya secaraaaaa.... sampe stasiun tetangga, itu kereta AC jam 7 main lewat aja di rel seberang... huuuuhhhh... gimana gak gondok... dikejar malah kabur duluan. Biasanya juga ngaret sampe jam 7.30 kok. Ya udah cengong-cengong bentar di stasiun tetangga, bingung mo ngapain. Akhirnya balik lagiiiii ke stasiun biasa, nunggu kereta AC jam 8....gggrrrr.... diketawain sama si muka Patrick - bintang laut merah jambu.
Sepagian (kata serapan bebas dari "seharian") itu tadi aku dapat 2 pemandangan unik. Yang pertama, di stasiun biasa, ketemu cewe, masih sekitar 20-an, pakai baju atasan hitam, celana hitam, cardigan pink ngejreng. Secara yaa... udah pakai baju lapis 2 gitu... putingnya nongol dengan jelas di balik bajunya. Bentuk payudaranya emang bagus sih, bulet gitu, nyeplak jelas juga. (Bukan aku mau berporno-cerita ya, tapi mo nyebutinnya gimana lagi). Ya ollo.... di stasiun..pagi-pagi... dengan bermacam jenis orang... yang (maaf) kebanyakan kelas menengah ke bawah... gimana kalo ada yg iseng... ummm...dipegang gituh... kekekek... Jangan-jangan si mbak malah kegirangan ya... >:)
Masih ada aja ya yang suka ngasih gratisan ke laki-laki...daripada gitu mending sekalian pake bikini aja naik ke atap kereta 'kambing'....biar sekalian disetelin musik nari-nari deh disitu... awas ati-ati kesetrum...
Yang kedua, si muka Patrick tuh... tadi dikasih kode pandangan mata ama seorang pengemis yang biasa berkarir (cueehh) di stasiun biasa. Trus muka Patrick nyuruh tukang koran nyamperin pengemis itu. Ternyata ya ternyataaa.... tukang koran itu kembali dengan segenggam uang receh dibungkus kertas, buat si muka Patrick. Weleh2.... sekedar info.... muka Patrick ini adalah oknum pegawe sepur. Huahhh gimana gak tambah bulet kayak Patrick.
Yang kedua setengah, masih menyangkut Patrick, tumben banget dia tadi mintain karcis ke penumpang yang baru turun. Biasanya sih.... sangat hampir tidak pernah. Nah setelah terkumpul banyak karcis di tangannya, dipilih-pilih ama muka Patrick, yang karcisnya masih berbentuk rapi belum sobek, diulurkan ke seorang ibu muda yang duduk nongkrongin si muka Patrick. Ditawarin: "Mo ke Kota apa PasMing?"
Patrick....patrick... semoga dosamu diampuni ya nak.... :))
Kalo gitu ogah ah ngasih pengemis... secara udah jadi karir di stasiun...bisa jadi lebih kaya si pengemis daripada yang ngasih. Bukannya gak mau beramal lho ya....

Tuesday, August 22, 2006

When The Light Goes Off

Aku adopsi dari judul lagunya Faith Hill (apa Celine Dion)?
Kalo diterjemahin ke bahasa Jawa lugas, bisa berarti "Pas Lampune Mati" ;-)
Daerah rumahku itu, tiap ada hujan angin dikit aja pasti lampu mati...pet... Kadang padamnya cuman beberapa detik (kayak orang mainan saklar), kadang berjam-jam. Kata orang-orang sih, karena listriknya ikut pusat pembangkit yang di Bogor. (Aku tinggalnya di Depok gitu loh, tapi Depok yg ke arah Bogor). Tapi jangan berani-berani bilang Depok Coret ya...gak terimaaaaa...KTPku masih Kota Depok.
Balik lagi ke masalah listrik padam, biasanya listrik padam itu siang-siang jam 11-an, atau jam 14-an, kadang juga sekitar maghrib sampai rada malem gitu. Pokoknya si lampu milih mati pas acara tipi lagi seru-serunya.
Hehehe... kok bisa sampe ngebahas mati lampu yah... Kehidupan gue akhir-akhir ini juga berasa suram....gelap...gituh. Banyak cita-cita dan target yang belum tercapai. Hmmppffhh... kudu lebih sabar aja kali yah. Perasaan banyak banget masalah finansial yang berendengan datang tanpa permisi.
I need money...more and more... yang buanyakkk....segunung... (mo buat apa coba)... :-D

Tuesday, August 08, 2006

Step Back

Tadi aku ikut meeting, tepatnya demo project yang sedang aku kerjain di kantor. Agenda meeting-nya demo aplikasi. Peserta meeting dari pihak user ada tambahan 2 orang. Kedua orang ini ga ngikutin meeting-meeting sebelumnya. Jadi tadi itu mereka sibuk membahas ulang sedikit tentang requirements, sedikit tentang teknis pelaksanaan non-IT, risk analysis, project budget, dan semacamnya yang kurang nyambung ama aplikasi yang didemokan.

Padahal semalam aku udah cukup nervous ngadepin demo hari ini, sebab aplikasi yang aku buat belum 100% meets requirements. Udah deg-degan aja sepagian (meski tetep bisa tidur di kreta) takut kalo user-nya minta aplikasi yang sekelas ama aplikasi-aplikasi yang udah pernah dibuat. Aplikasinya aku buat pakai pure ASP, belum pakai JavaScript, meski di banyak bagian sebenarnya memerlukan sentuhan Javascript. Akhirnya agenda bergeser menjadi "look and feel" tentang project, dan pembahasan ulang beberapa poin requirement, penjelasan ulang "what this project will do", hal-hal yang "user bangget".
Lucunya, saat pihak user nanyain kapan target selesainya project ini sampai benar-benar kick off. Pihak IT jawab 2 bulan, tapi ini juga menuntut user sudah melakukan penyeragaman kode produk. Langsung deh pada ribut user-nya, menurut mereka penyeragaman kode butuh waktu lebih dari dua bulan, bisa-bisa sampai akhir tahun baru beres di semua cabang. Ya sudah akhirnya kita nyengir aja, kirain project-nya mo buru-buru go live gitu, ternyata kendala di pembersihan data malah lebih berat.
Kalo begini sih IT Project Management serasa gak kepakai. Memang sih, in the jungle, sulit untuk memaksakan ITPM bisa diterapkan step-by-step, as a complete project cycle.
Welcome to the jungle, aaarrgghhhh....

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]