Wednesday, October 11, 2006
Cari Air Kemana?
Sudah beberapa hari ini, tepatnya sejak hari Kamis minggu lalu, sumur bor di rumahku kekeringan. Tidak keluar air sama sekali. Kasihan mesin pompa airnya ngos-ngosan. Setelah dicoba beberapa kali dan beberapa lama tidak keluar air juga, pompa listrik itu akhirnya dicabut aliran listriknya. Takut jadi terbakar.
Selama seminggu sebelumnya juga memang sudah ogah-ogahan keluar airnya. Alirannya keciiiill sekali, debit airnya juga berkurang jauh. Memang bulan-bulan terakhir ini di tempat tinggalku sedang musim kemarau. Sebelum musim kemarau sih debit airnya banyak, keluarnya lancar, dan airnya jernih.
Saat airnya masih mengalir meski kecil, urusan mandi-cuci-kamar mandi (mau nulis 'kakus' kok gak enak ati) masih lancar, namun harus berhemat. Hari Kamis pagi itu mulai 'mati pet' jadinya air tampungan hari kemarinnya diirit-irit. Kamis malam, pulang kerja, aku mandi dengan air cuma 2-3 gayung. Gayung ukuran normal ya, bukan gayung buat raksasa =))
Dilanjutkan dengan mengelap badan dengan tisu basah, pakai baby wipes gitu. Airnya disayang-sayang buat urusan wudhu.
Jumat pagi keesokan harinya, aku mandi pakai air mineral, AQUA. Hehehe..."inikah rasanya.. mandi pakai AQUA, kulit sehat berseri, berasa makin cantik aja deh". Begitu status YM-ku hari Jumat lalu. Air mineral yang kupakai mandi pagi itu sekitar 10 liter. Pakainya ya sambil terharu, duh, ini air sekali mandi Rp 4.500,- (harga 1 botol galon AQUA Rp 9.000,- dan 1 botol galon=19 liter). Tapi mau bagaimana lagi? Di daerah komplekku gak ada yg jual air (mentah) jerigenan keliling. Air mineral isi ulang yang sebotol galon "cuma" Rp 2.500,- kebetulan distributornya agak jauh dari rumah, dan gak mau ngantar jumlah banyak ke rumah. Calon pembeli harus membawa botol galon kosong sesuai jumlah botol yang diinginkan, atau pulang balik sendiri ke tempat penjualnya.
Tetangga gimana? Tetanggaku ada yang masih keluar bagus air sumurnya, ada yang hanya mengalir sedikit. Lho, kenapa gak minta air ke tetangga aja? Waduh... aku gak biasa merepotkan orang lain. Gak pengen terlalu banyak utang budi. (Budi kan temanku, hiks...jangan pada diutangin dong..). Sebisa mungkin gak minta tolong ke orang lain, tapi harus gemar menolong, begitu pesan Bapakku dulu.
Hari Sabtunya, masih bertahan dengan AQUA sembilan ribuan itu. Sorenya, cari-cari dan neleponin tukang sumur bor. Tanya harga, tanya ini itu. Biar gak terlalu banyak pulsa HP, nelpon dari wartel. Di wartel, ngomong2 ama penjaga wartel, dia bilang tetangganya ada yg tukang bor sumur, dan bersedia nanyain info harganya.
Hari Minggu pagi, si penjaga wartel kemarin janjinya mo ngasih kabar Minggu pagi, sekalian ajak tukang bornya ke rumahku. Ditunggu-tunggu sampai jam 8.30 gak ada kabar. Aku juga udah telanjur janjian ama saudaraku, numpang cuci baju kesana. Ya sudah aku tinggal aja. Agak siang jam 10-an gitu baru dia nelpon, katanya udah di depan rumahku. Aku bilang udah telanjur pergi.
Yang bikin aku agak 'panas'.. si penjaga wartel ini menyebutkan angka Rp 7,5jt untuk ongkos nge-bor sumur pakai tenaga mesin, kedalaman 30m. Kemarinnya di kantor aku sudah tanya beberapa teman, harga untuk bor sumur tenaga manusia berkisar antara Rp 1,2 - 1,5jt. Meskipun ada yang medannya berbatu keras, sehingga si tukang bor minta tambah ongkos menjadi Rp 3jt. Ongkos ini dapat kedalaman sampai 30 m. Nah kalau bor tenaga mesin, tanya2 di toko pompa sih, pemilik toko nawarin, ongkos bor pakai mesin, bisa nembus batu, Rp 100 ribu per meter kedalaman. Tujuh setengah juta??? Aji mumpung kali...
Aku tolak halus tawaran si penjaga wartel, aku bilang gak punya duit segitu. Memang aslinya juga gak ada budgetnya.. hehehe.. maklum.. ini kan musibah, jadi ya unexpected budget. Siangnya sekitar jam 12 dia nelpon lagi, sekarang nyebutin angka Rp 7jt. Dan katanya bisa nego sendiri ama tukang bornya, udah ada tukang yang nyanggupin kalo ongkosnya Rp 7jt. Ya iyalah... kalau seandainya aku ini lelaki dewasa, badan sehat kuat, dan lagi gak punya kerjaan, biarpun gak punya pengalaman ngebor sumur, kalo bayarannya segede gitu, yah dibela-belain kursus ngebor kilat trus samber deh tu orderan.
Aku jawab aja kalo segitu sih, aku gak mau nego, emangnya jualan baju di Mangga Dua, 'harga jadi'-nya kan bisa separuh harga penawarannya. Emangnya baju dibor... auk ah..
Hari Senin, ngobrol2 ama teman kantor lagi, katanya memang kalo bor pakai tenaga mesin mahal, harga Rp 10jt untuk kedalaman 80-100m. Lah, tetep aja lebih mahal si Tujuh Juta kan...
Akhirnya hari Senin ini beralih ke air mineral isi ulang. Caranya, ojek langganan jemputanku kalo pagi hari, disuruh bawa 2 botol galon kosong, diisi air mineral, trus sampai rumahku langsung dituang. Abang ojek pulang balik 3 kali, jadi 6 botol galon sehari. Memang nambah ongkos untuk si abang ojek, tapi tetap itungannya lebih murah daripada beli AQUA yg biaya antarnya gratis (ada tetangga dekat rumah yg jualan).
Di rumah saudaraku, yang aku tumpangin cuci baju, di dekat rumahnya ada tukang bor sumur, pakai tenaga manusia. Omong-omong, nego, akhirnya disetujui untuk mengebor sumur hari Selasa ini, dengan harga < Rp 1jt, dikerjakan selama 3 hari, kedalaman antara 15-20m. Harga diskon gede2an nih, sebab saudaraku kenal baik dengan si tukang bor. Mesin pompa air harus ganti yang jenis semi jet pump. Selidik punya selidik, sumur borku yg ada itu ternyata kedalaman cuma antara 8-11m dilihat dari jenis pompa airnya. Pastinya sih hari ini baru dibongkar pipanya, berapa pipa jumlahnya, baru deh ketahuan berapa kedalamannya.
Yah sementara pilih yang 'PaHe' dulu deh.. nanti sambil jalan baru dipikirin untuk bikin lagi sumur yang super duper.
Buat teman2 yang belum pernah merasakan "merawat rumah sendiri", sharing ini salah satu contoh 'musibah' yang bisa terjadi pada rumah milik kita. Tidak bisa komplain ke siapa-siapa, sebab sudah bukan tanggung jawab developer. Beda dengan rumah kontrakan/kost, kita bisa mengeluhkan pada pemiliknya. Semua harus ditangani sendiri, dengan bijak tentunya.
Labels: seputar rumah
Thursday, October 05, 2006
Posting Via E-mail
Monday, August 28, 2006
"E-mail", SMS, atau...
Harus diakui saya berterima kasih kepada teknologi yang majunya begitu dahsyat, bahkan sering kali saya terengah-engah mengikutinya.
Saya baru tahu sekarang bahwa terengah-engah tak hanya saat olahraga di tempat olahraga atau di ranjang. Kemajuan teknologi ternyata melelahkan juga, meski tak tahu kapan waktu tepat untuk ejakulasi.
Saya baru berniat membeli kamera digital tujuh megapiksel, seminggu kemudian saya membaca di harian ini iklan yang menawarkan kamera digital delapan megapiksel. Itu baru berbicara soal kamera digital, belum soal telepon genggam yang tak hanya bisa ini bisa itu, tetapi bisa segalanya. Bahkan ada efek getarnya saat alat komunikasi ini di-silent. Itu sudah mirip alat bantu seks yang bisa menggetarkan dan bisa digunakan seseorang yang sedang malas digetarkan orang lain.
Teman saya sekali waktu pernah menanyakan soal blackberry, waktu itu saya sama sekali tak tahu karena saya memang gaptek. Waktu dia menanyakan blackberry, saya pikir itu salah satu jenis buah dari keluarga berry-berry-an.
"Bisa beli di Hero, ya? Di sini strawberry saja mahal banget, bo." Maka gemurulah suara teman-teman saya terbahak-bahak. Dan ketika saya menanyakan soal PDA-setelah ditertawai tadi-seorang teman wanita yang kebetulan sedang bersama kami berpikir PDA itu salah satu gelar selain PhD.
"Aduh malu deh aku," katanya. "Enggak papa, Jeung," kata saya. "Yah... namanya juga kita cuma lulusan S-1, S-2, dan S-3. Maksudnya SD, SMP SMA... Jadi, gitu deh," jawab saya.
Oh... teknologi
Beberapa hari setelah pertemuan itu saya diantar pulang ke apartemen oleh seorang teman yang tahu soal teknologi. Di dalam mobil ia memperdengarkan lagu-lagu pop Indonesia. Terus saya berkomentar lagu-lagunya enak sekali.
"Beli di mana? CD siapa, nih?" tanya saya. "Ini bukan CD, gue download terus gue masukin ke USB yang bisa didengar lewat gelombang radio. Alatnya elo bisa beli di Kuala Lumpur," jelasnya.
Saya tambah bingung. Kata teman saya. "Enggak usah bingung-bingung, ntar gue ajarin." Saya bertanya lagi, "Ajarin apa?" Ia menjawab tenang, "Ajarin download lagu."
Teknologi semacam itu benar-benar membingungkan buat saya yang gaptek, tetapi setelah beberapa gadget dan fasilitasnya saya coba dengan memakai IQ saya yang jongkok, ternyata beberapa kali menolong saya. Semuanya jadi mudah. Seperti e-mail atau SMS, bahkan sekarang dengan fasilitas MMS, saya tinggal mengirimkan pesan, gambar lagu untuk mereka yang berulang tahun, melahirkan, lulus jadi dokter, lulus masuk perguruan tinggi meski pakai joki, waktu naik jabatan meski naiknya karena masih punya hubungan dekat dengan pak ini dan bu itu.
Kalau saya, sudah dekat dengan ini dan itu, sudah berusaha naik, tetap tak naik-naik jabatan. "Lo sih salah, yang lo deketin pacarnya orang, gimana mau naik. Naik ranjang iya. Kalau mau bener-bener naik, deketin yang punya jabatan penting. Mbok bergaul situ," katanya menasihati.
"Maksud gue boleh saja lo bergaul sama pendaki gunung, tetapi bukan itu yang gue maksud, oke?" katanya lagi. Saya seperti tak berdaya mendengar pesannya. "Yah oke, Bos," jawab saya. "Eh... nama gue bukan bos, lagi," jawabnya lagi.
Entah mengapa setelah merasa mendapat kemudahan dari hadirnya teknologi, belakangan perasaan sentimentil saya muncul. Padahal, sudah lama sekali rasa itu tak pernah hadir. Tiba-tiba saya teringat someone special. Yang saya maksud someone special bukanlah pegawai bank yang selalu tak lupa menghubungi saya dan mengingatkan batas kartu kredit saya telah terlampaui.
Kesetrum
Seseorang yang spesial itu pernah menghubungi saya pukul dua belas malam lebih sekian detik hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Tetapi, saat beberapa bulan lalu ia merayakan hari jadinya, saya hanya mengirimkan SMS dengan kalimat indah yang saya dapat dari hasil kiriman seorang teman.
Kemudian saya memperbandingkan usahanya untuk menelepon tengah malam dan berbicara dengan suaranya sendiri, dan bukan seperti saya saking malasnya, kebiasaan mau cepat dan tak mau rugi, maka fasilitas SMS-lah yang saya gunakan. Itu mungkin sayanya saja yang tak tahu diri dan dengan mudah menyalahkan SMS. Itu kalau punya kebiasaan mencari kambing hitam.
Hari Jumat minggu lalu, saat sedang liburan dengan cuti yang terpotong, saya teringat masa remaja puluhan tahun lalu. Salah satu kesenangan waktu senggang adalah korespondensi.
Beberapa surat masih saya simpan dan sekarang saat saya membaca surat-surat lama itu saya melihat perubahan tulisan tangan saya. Melihat kembali cinta remaja saya. Cinta, cinta, cinta. Saya seperti tak butuh apa-apa kecuali cinta untuk hidup. Padahal, kalau dipikir dengan kepala jernih, ya hidup perlu oksigen untuk bisa mencintai, bukan?
Pada masa itu, kalau ada yang berulang tahun, saya berusaha pergi ke toko buku, memilih kartu ucapan yang tepat, kadang yang kosong sehingga saya bisa menuliskan kalimat yang keluar dari hati dan kepala saya, bukan yang seperti sekarang tinggal mem-forward-kan kalimat-kalimat indah yang mungkin bukan dari hati saya yang sesungguhnya. Menyisihkan waktu untuk pergi ke kantor pos, membeli prangko, menunggu giliran, sambil menikmati gedung pos yang tua dengan dinding kaca. Sekarang selalu saja tak ada waktu untuk hal-hal kecil itu.
Semoga lama-lama saya tak jadi manusia yang tumpul perasaannya. Kata teman saya. "Enggak mungkinlah lo bakal kayak robot tanpa perasaan. Selama ada yang mulai telepon-telepon lo terus bilang, I miss you, perasaan manusiawi lo tetap bakal kesetrum. Apalagi kalau lo ditelepon pegawai bank yang ngingetin tagihan lo."
Dia masih melanjutkan, "Kesetrum adalah bukti lo enggak bakal jadi robot. Robot yang ketemu lo enggak hanya kesetrum, gue pastiiin mulutnya juga jadi kayak punya elo." Tipis, maksud lo? "Embeeerrrrrr," katanya.
Teknologi yang Mengubah Hidup
1. Minggu lalu saya berbicara dengan salah satu manajer sebuah perusahaan rekaman. Ia mengeluh karena penjualan CD dan kasetnya, meski belum rugi, semakin melorot. "Yah… gitu deh. Bajakan, bisa di-download kapan pun."
Teknologi memudahkan untuk yang punya usaha bajak-membajak dan download-men-download, dan menyulitkan mereka yang memproduksi secara legal. Teknologi benar-benar mengubah hidup mereka. Satu sengsara, satu gembira. Adilkah hidup ini? "Adiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiil," kata yang membajak.
2. Seorang wartawan mode, teman saya sejak lama, sampai sekarang tak punya telepon genggam. Pada suatu hari saya bertanya mengapa ia tak berkeinginan membeli telepon genggam, itu sesuatu yang akan memudahkannya.
Ia menjawab, "Emang lo pikir hidup gue enggak mudah? Mudah lagi." Ia benar. Saya yang tidak merasa mudah. Kalau saya tidak merasa mudah, mengapa orang lain harus ikut merasa tidak mudah? Itu problem saya, bukan problem teman saya itu. Saya tak perlu sampai punya keinginan memaksakan standar kemudahan saya, diterapkan kepada dia. Ia punya standar kemudahan sendiri.
Mungkin saya korban kemajuan teknologi, sedangkan iman dia begitu kuat sampai bisa menaklukkan kemajuan itu untuk dirinya. Mungkin sudah waktunya ia mendapat bintang penghormatan. Bukan untuk kehebatannya tak punya telepon genggam, tetapi untuk imannya yang tak tergoyahkan itu.
3. Bila Anda mengirimkan sebuah ucapan, apa pun itu, sediakan waktu untuk berpikir apa yang hendak Anda tulis. Bukan dengan mudah menuliskan kalimat-kalimat-kalimat yang dikirimkan untuk Anda melalui gadget di tangan. Kalimat dari hati Anda mempunyai nilai lebih dari sekadar kalimat yang diambil dari ucapan seorang Imelda Marcos, atau Bill Gates, atau buatan manusia maya supaya Anda mem-forward ke teman-teman Anda lagi karena kemungkinan kalimatnya memang menyentuh atau memberi semangat. Tetapi, kalimat itu punya mereka dan Anda bukan mereka.
Mudahnya, latihlah mengungkapkan perasaan Anda, itu maksud saya. Jadi, siapa tahu, Imelda Marcos suatu hari yang akan menyontek ungkapan buatan Anda sendiri itu. Bukankah teknologi bisa mem-forward kalimat Anda itu tanpa batas? ***
Wednesday, August 23, 2006
Susu Pagi Hari, Setoran Pengemis, dll.
Tuesday, August 22, 2006
When The Light Goes Off
Subscribe to Posts [Atom]