Thursday, June 08, 2006

? Pengekangan Wanita ?

Kemarin pagi, sambil memejamkan mata dan sedikit terlelap oleh buaian kereta express, aku dengar ada seorang ibu muda, teman sekantor dari teman yang duduk di sebelahku, sedang bercerita. Aku yang semula hampir "lepas landas", akhirnya malah dengerin ceritanya sampai tuntas.

Ceritanya begini. Ibu muda, atau si mbak itu, ditawari kesempatan memperoleh beasiswa pendidikan S2 dari kantornya, sebuah bank swasta terbesar di Indonesia. Beasiswa yang diperoleh adalah S2 di UI, kemudian biaya S3-nya gratis. Katanya sih, bisa diberi beasiswa karena ada kerjasama antara bank tsb dengan UI.

Kelanjutan ceritanya, mbak itu akhirnya terpaksa menolak kesempatan tsb, sebab suaminya keberatan jika istrinya kuliah lagi. Kuliahnya kebetulan hanya ada 1 pilihan, yaitu senja s/d malam sepulang kerja. "Suami gue bilang, ntar anaknya gimana? Jam 9 malam baru pulang dari kampus." Tapi entah kampus UI-nya yang di Depok atau Salemba, aku gak dapat infonya.

Dalam hati aku nggrundel sendiri. (Eh, hampir terlelap kok sempat-sempatnya nggrundel). Ini grundelanku (Gx):
& G1 &
Anak ditinggal emaknya kuliah malam, ya tetap akan jadi anaknya mereka berdua toh. Qiqiqiq...mosok anaknya trus berubah wujud atau gimana, kan ya gak mungkin. Asalkan diberi pengertian, dan si bapak gak egois "anak kan urusan emaknya" pasti akan baik2 aja si anak. Bertukar peranan untuk sementara gpp lah.
& G2 &
Ini suami kok egois bener. Emang dia bisa ngasih kompensasi apa buat terhambatnya peluang karir istrinya? Seorang wanita yang telah berkeluarga, meski di mulutnya bisa terucap "Aku sudah cukup bahagia dengan mengurus anak dan rumah tangga, gak perlu karir". Tapi belum tentu hatinya bisa ikhlas secepat mulutnya berucap. Kompensasi tak selalu berupa kecukupan harta lho, kodrat manusia kan selalu punya banyak keinginan. Keinginan untuk berkarir itu kan juga keinginan yang positif, sehingga patut didukung, bukannya dihambat.
& G3 &
Ada yang ngasih biaya sekolah GRATIS kok ditolak. Aku aja terseok-seok membiayai sendiri tanpa sponsor dari pihak lain, Alhamdulillah sudah hampir selesai. Meskipun seandainya nantinya karirku belum berkembang secepat yang kuinginkan, setidaknya dalam diriku telah tercipta satu nilai lebih yang tidak banyak dimiliki orang lain.
& G4 &
Itu suaminya pasti takut tersaingi..huh...
& G5 &
Hmm...untung aku masih diberi kesempatan dan kebebasan, belum terikat dalam rumah tangga. Tapi nanti gimana ya, seandainya suamiku mengekang karirku?

"Selamat pagi para penumpang Depok express, sebentar lagi kita akan masuk Stasiun Gondangdia. Silakan periksa barang-barang bawaan Anda, jangan sampai tertinggal di dalam rangkaian."

Whoeee... jadi kaget...gak biasa-biasanya ada pemberitahuan dan sapaan manis dari awak kereta express. Tapi bagus juga lah, biar gak garing, dan ada fitur istimewa dibanding kereta ekonomi. Serasa naik kereta express jarak jauh aja, ada sapaan manisnya. Mungkin PT.KAI mulai berbenah diri kali ya....

Jadi begitulah sodara-sodara, benarkah telah terjadi pengekangan wanita yang telah berkeluarga? Jawabannya tergantung diri dan komitmen masing-masing rumah tangga. Yang jelas, aku menolak pengekangan terhadap kegiatan positif seperti contoh tadi. Hidup emansipasi wanita !!!!

Comments: Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]





<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]